1. Skip to navigation
  2. Skip to content


image

Sekolah Profesi

  • Progress 0%
  • Modal Dasar Rp 1.000.000.000
  • Dana Terkumpul Rp 0
  • Link Referensi Link
  • Industri Sosial
  • Product 1pt
  • People 1pt
  • Investment 0pt
Vote!

Penjelasan Lengkap

Ide ini dilihat sebanyak : 1062 kali.

Salah satu permasalahan dalam pendidikan di Indonesia adalah masalah output dalam pendidikan, dimana dalam pendidikan kita untuk tingkat SMA/MAN sudah sepatutnya siswa melanjutkan untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi pada saat sudah melanjutkan pun masih dipusingkan mau bekerja dibidang apa? pada akhirnya pilihan minat sangat tidak sesuai dengan lowongan pekerjaan yang ada dan kemudian harus belajar dari awal lagi karena tidak pernah dipelajari di bangku sekolah.

Begitu pula dengan tingkatan SMK/SMEA/STM/SMIP dll. keterbatasan apa yang diberikan olehkurikulum dan keharusan nilai kelulusan hanya dilihat dari nilai UAN menyebabkan siswa berlomba mendapatkan nilai yang tinggi secara keilmuan dan paling banyak 30% untuk Vocational/keahlian/profesi skill. Jadi pada akhirnya menjadi absurd dengan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi ataupun memilih sekolah kejuruan.

Pemikiran tersebut di atas yang menyebabkan saya berfikir seperti konsumen yang memotong jalan membeli produk bukan dari pengecer tetapi langsung dari pembuat, dimana seharusnya pendidikan yang dibutuhkan oleh anak-anak kita sekarang adalah lebih pada menjurus apa yang akan mereka geluti nantinya (berprofesi). Sederhananya sejak dini jika sesuai dengan peminatan dan bakat yang telah diidentifikasi sejak dini (saat ini bisa melalui sidik jari dan cara yang lainnya) maka kita bisa mengarahkan mereka untuk sekolah di sekolah yang idenya bertabrakan dengan kurikulum yang sekarang berlaku di dunia manapun.

Khayalan saya, jika berprofesi sebagai pembuat roti (Chef Food n Beverage) sejak dini di perkenalkan dengan berbagai macam bahan pembuat roti (bermacam tepung, Berbagai pengembang, Berbagai alat), pada tingkatan menengah bisa diajarkan cara membuat roti yang paling sederhana yang berasal dari daerahnya, dan pada tingkatan master diajarkan membuat roti dari berbagai daerah dan negara dengan bermacam sentuhan, jadi pada saat terjun ke masyarakat jelas keahliannya sebagai pembuat roti dengan mengetahui seluk beluknya dari bahan, alat, cara membuat, macamnya, dll., sehingga tidak perlu disangsikan lagi dengan beradaptasi pada pekerjaan yang digeluti.

Saya membayangkan dengan input bagaimanapun, pada saat proses dilakukan dengan orang yang ahli dibidangnya dan diarahkan sejak dini maka outputnya mudah-mudahan menjadi salah solusi masalah pendidikan kita sekarang ini yang lebih mementingkan nilai di atas kertas dibandingkan dengan apa yang mereka bisa lakukan. Seperti gambar yang ditampilkan, semoga tidak ada lagi yang seperti itu, semoga...



Ide Serupa

  1. Pelatihan utk Upgrading Kapasitas Diri Asisten rumah tangga

    Diusung oleh Ali, 2 tahun yang lalu
  2. Lembaga Amil Zakat tingkat RT

    Diusung oleh Yudi, 2 tahun yang lalu
  3. MENDIRIKAN SEKOLAH IDAMAN TANPA BIAYA

    Diusung oleh Iman, 2 tahun yang lalu
  4. Asosiasi Lembaga Filantropi Indonesia

    Diusung oleh Abu, 1 tahun yang lalu
  5. Sekolah Profesi (Teknologi Informasi dan Komunikasi)

    Diusung oleh joko, 1 tahun yang lalu

Submit Komentar Anda    

2 Komentar

  1. Saya hanya se IDE dengan anda. untuk membuat sekolah tersebut perlu strategi dan Jaringan serta konsep yg matang.
    Sudibyo

    Sudibyo Nasuha

    27 Maret 2013

  2. Sejak dahulu dikenal ijazah kursus komputer atau bahasa Inggris. Itu salah satu bentuk sertifikasi keahlian. Jalur pendidikan formal memang masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang. Akan tetapi, sungguh tidak ada salahnya melirik pendidikan keahlian non gelar. Pendidikan seperti ini justru bertujuan mendidik tenaga ahli bidang tertentu yang tersertifikasi. Saat tini di Sulabaya ada banyak perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan seperti itu dengan beragam bentuk keahlian. Sementara ini pendidikan sertifikasi keahlian antara lain bidang ekonomi, keuangan, dan teknik. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), misalnya sudah menyelenggarakan berbagai pendidikan sertifikasi pada beragam keahlian bidang teknik. Adapun Universitas Airlangga (Unair) antara lain menyelenggarakan pendidikan sertifikasi bidang pemasaran dan manajemen keuangan. Universitas Surabaya (Ubaya) menyelenggarakan pendidikan sertifikasi ahli keuangan dan akuntansi. Pendidikan lazimnya diselenggarakan dengan system modul. Waktu studi biasanya berlangsung antara satu Semester hingga dua semester. "Dari segi biaya, pendidikan ini relatif lebih murah daripada pendidikan formal tingkat master," ujar Basuki, Direktur Magister Manajemen Unair. Salah satu orang yang menempuh jalur ini adalah Daniel M Rosyid, dosen ITS dan mantan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur. Selain sibuk mengajar dan menjadi pemerhati pendidikan, Daniel juga menjadi profesional pemasaran tersertifikasi. la salah satu dari sedikit pemasar di Surabaya dengan sertifikat keahlian yang diakui di tingkat Asia Pasifik. Keahlian itu antara lain digunakan untuk menjalankan bisnis minyak kelapa rnurni. la juga menggunakan keahlian itu untuk memasarkan kapal-kapal kecil dari galangannya di Probolinggo. "Kami membuat produk untuk keperluan ekspor," ujar Daniel. Dekan Fakultas Ekonomi Ubaya Sujoko Efferin mengatakan, sertifikasi keahlian bisa menaikkan nilai tawar pencari kerja. Pasalnya, masih amat sedikit tenaga ahli tersertifikasi tersedia di Indonesia. Di sektor keuangan, hanya ada beberapa ratus orang yang mengantongi sertifikat keahlian. Padahal, Indonesia membutuhkan ribuan tenaga ahli keuangan tersertifikasi. "Peluang di sektor ini masih amat besar, mengingat semakin banyak orang membutuhkan tenaga ahli keuangan tersertifikasi," tuturnya. Bahkan untuk bidang tertentu, sertifikat keahlian lebih dibutuhkan daripada ijazah pendidikan formal tingkat lanjut. Di bidang akuntansi, misalnya, sertifikat keahlian cenderung lebih disukai daripada ijazah pendidikan formal tingkat master. Pasalnya, setiap negara memiliki standar akuntansi masing-masing. Pendidikan akuntansi tingkat master biasanya memperdalam standar itu. Sementara pendidikan sertifikasi tenaga ahli mendidik seseorang untuk menguasai standar global prosedur akuntansi. Dalam pasar tenaga kerja saat ini, sertifikat keahlian juga semakin menjadi persyaratan utama. Tidak sedikit perusahaan meminta seorang pelamar membuktikan keahliannya dengan menunjukkan sertifikat bidang tertentu. "Isu sertifikasi keahlian bukan hal baru di Indonesia. Sejak dahulu dikenal ijazah kursus komputer atau bahasa Inggris. Itu salah satu bentuk sertifikasi keahlian," ujar Basuki. Pendidikan keahlian memang dibutuhkan sejak dahulu.
    joko

    joko prasetiyo

    09 Juli 2011