Penjelasan Lengkap
Ide ini dilihat sebanyak : 1062 kali.
Salah satu permasalahan dalam pendidikan di Indonesia adalah masalah output dalam pendidikan, dimana dalam pendidikan kita untuk tingkat SMA/MAN sudah sepatutnya siswa melanjutkan untuk belajar di jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi pada saat sudah melanjutkan pun masih dipusingkan mau bekerja dibidang apa? pada akhirnya pilihan minat sangat tidak sesuai dengan lowongan pekerjaan yang ada dan kemudian harus belajar dari awal lagi karena tidak pernah dipelajari di bangku sekolah.
Begitu pula dengan tingkatan SMK/SMEA/STM/SMIP dll. keterbatasan apa yang diberikan olehkurikulum dan keharusan nilai kelulusan hanya dilihat dari nilai UAN menyebabkan siswa berlomba mendapatkan nilai yang tinggi secara keilmuan dan paling banyak 30% untuk Vocational/keahlian/profesi skill. Jadi pada akhirnya menjadi absurd dengan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi ataupun memilih sekolah kejuruan.
Pemikiran tersebut di atas yang menyebabkan saya berfikir seperti konsumen yang memotong jalan membeli produk bukan dari pengecer tetapi langsung dari pembuat, dimana seharusnya pendidikan yang dibutuhkan oleh anak-anak kita sekarang adalah lebih pada menjurus apa yang akan mereka geluti nantinya (berprofesi). Sederhananya sejak dini jika sesuai dengan peminatan dan bakat yang telah diidentifikasi sejak dini (saat ini bisa melalui sidik jari dan cara yang lainnya) maka kita bisa mengarahkan mereka untuk sekolah di sekolah yang idenya bertabrakan dengan kurikulum yang sekarang berlaku di dunia manapun.
Khayalan saya, jika berprofesi sebagai pembuat roti (Chef Food n Beverage) sejak dini di perkenalkan dengan berbagai macam bahan pembuat roti (bermacam tepung, Berbagai pengembang, Berbagai alat), pada tingkatan menengah bisa diajarkan cara membuat roti yang paling sederhana yang berasal dari daerahnya, dan pada tingkatan master diajarkan membuat roti dari berbagai daerah dan negara dengan bermacam sentuhan, jadi pada saat terjun ke masyarakat jelas keahliannya sebagai pembuat roti dengan mengetahui seluk beluknya dari bahan, alat, cara membuat, macamnya, dll., sehingga tidak perlu disangsikan lagi dengan beradaptasi pada pekerjaan yang digeluti.
Saya membayangkan dengan input bagaimanapun, pada saat proses dilakukan dengan orang yang ahli dibidangnya dan diarahkan sejak dini maka outputnya mudah-mudahan menjadi salah solusi masalah pendidikan kita sekarang ini yang lebih mementingkan nilai di atas kertas dibandingkan dengan apa yang mereka bisa lakukan. Seperti gambar yang ditampilkan, semoga tidak ada lagi yang seperti itu, semoga...
.jpg)
